Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 20, 2008

Waktu

Awal tahun Masehi dan awal tahun hijriyyah terjadi dengan selisih beberapa waktu saja. Kembang api, panggung hiburan, trompet, turut memeriahkan pergantian tahun baru masehi; di sisi lain, zikir, pengajian, santunan dan kegiatan sosial keagamaan lain turut serta dalam memeriahkan tahun baru hijriyyah. Sesuatu cara penyambutan antara dua tahun baru yang begitu berbeda sesuai dengan tergantung dengan siapa pelaku penyambutannya.
Seorang muslim bolehkan memperingati pergantian tahun baru masehi? Mungkin jawaban yang keluar akan baerbeda satu sama lain tergantung siapa yang menjawab.
Apakah juga kita boleh memperingati pergantian tahun baru hijriyyah? Lagi-lagi jawaban yang keluar bisa dipastikan berbeda.
Tetapi terlepas dari itu semua, saya hanya akan membahas tentang tahun baru ini dari sisi yang lain.
Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa peringatan tahun baru, baik itu masehi atau pun hijriyyah adalah perbuatan yang sia-sia (kalau tidak pas dikatakan bid'ah). Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkannya dan tidak ada satu pun dalil yang mendukung kepada perbuatan tersebut.
Sebagian lagi mengatakan, "apa salahnya kalau saya berzikir, bermuhasabah bertepatan pada malam tahun baru, toh zikir dan muhasabah itu dianjurkan dalam Islam." Bahkan dengan adanya awal tahun banyak orang berharap bahwa di tahun baru yang segera dimasuki ini akan timbul suatu perubahan yang lebih baik, jauh dari bencana, dan lain sebagainya.
Sekali lagi saya saya akan membahasnya dari sisi yang lain.
Pertanyaan saya adalah, "kenapa momentum pergantian tahun baru yang menurut kita penting ini seolah luput dari perhatian Islam? Apakah Islam itu masih perlu penyempurnaan? Lalu kenapa di buku-buku Islam banyak beredar doa awal tahun, doa akhir tahun dan sebagainya?"
Menurut saya, justru kalau kita jeli Islam sangat peduli dan sangat memperhatikan momentum waktu sehingga atas namanya Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al-Quran.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada dua poin yang saya kira perlu antipersonnel.
  1. Untuk menuju perubahan, Islam tidak menunggu waktu awal atau akhir tahun, tetapi harian. Bila hariannya bagus, Insya ALlah tahunannya juga bagus. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa barang siapa hari ini leih baik dari kemarin, ia beruntung; barang siapa hari ini sama dengan kemarin, ia rugu; dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka.
  2. Sebenarnya kalau kita mau berfikir, subyek perubahan bukanlah waktu, tetapi orang-orang yang mengisi waktu. Kalau ia pandai memanfaatkan waktu, ia bisa berubah. Dalam hadits yang lain dikatakan bahwa manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempatan yang lain. Masa hidup sebelum mati; masa sehat sebelum sakit; masa kaya sebelum miskin; dan masa longgar/luang sebelum datang waktu sibuk.
Tercatat ada enam waktu yang dikenal dalam Islam:
  1. Malam
  2. Fajar
  3. Shubuh
  4. Dhuha
  5. Siang
  6. Sore
Saking pentingnya waktu-waktu tersebut, sehingga Allah SWT bersumpah atas namanya di dalam Al-Quran.
Sebegitu pentingnya waktu diperhatikan dalam Islam, sehingga sudah sepatutnyalah kita umat muslim merupakan orang yang paling menghargai waktu dan paling bisa menerapkan manajemen waktu dengan baik.
Begitu misteriusnya waktu sehingga terkadang ada orang yang sudah siap mati, keluarganya pun sudah pula merelakannya bila sewaktu-waktu yang bersangkutan mati, tetapi ternyata waktu kematian belum datang kepadanya. Di sisi lain, ada orang yang belum siap untuk mati, masih betah berlama-lama di dunia tetapi terbnyata ajal segera menjemputnya.

Paling tidak, ada tiga karakteristik yang berkaitan dengan waktu yang perlu kita perhatikan:
  1. Waktu itu akan terasa cepat berlalu, dan sangat terasa sekali bagi manusia penghuni bumi di akhir zaman. Ada yang mengatakan bahwa waktu itu bagaikan pedang. Bila tidak bisa mengendalikannya, terjadi senjata makan tuan. Kekuatan pedang bukan hanya pada ketajamannya, tetapi juga pada kecepatannya.
  2. Waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Kita sebagai manusia, makhluk Allah SWT terikat dengan ruang dan waktu, sehingga apabila kita sudah melewatu suatu masa, masa tersebut ternyata tidak akan pernah kembali, hanya tinggal kenangan.
  3. Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia.
Sudahkan kita menafaatkan waktu dengan baik?
Bila tidak, hati-hati dengan bencana yang berkaitan dengan waktu:
  1. Lalai. Orang shalat pun belum dikatakan beruntung bila masih lalai dalam shalatnya. "Neraka Wail-lah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya." Ingatlah, lalai menabung mengakibatkan bencana boke, lalai belajar berakibat bencana bodoh, lalai olah raga berakibat kirang vitnya kondisi badan.
  2. Kebiasaan menunda pekerjaan. "Dan janganlah kamu mengatakan, sesungguhnya aku akan melakukan hal tersebut esok hari." Ingatlah bahwa esok hari akan datang keawajiban lain, kesibukan lain. Bial sesuatu pekerjaan hari ini akan dilakukan esok hari, ingatlah esok hari Anda harus menggeser kewajiban lainnya demi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan hari ini, danseterusnya. "Meninggalkan kewajiban umumnya dimulai dengan menunda-nunda; Melanggar kewajiban umumnya dimulai dari menawar-nawar."
  3. Menyalahkan waktu/keadaan. Kalau terjadi sesuatu janganlah kita mengkambing hitamkan waktu. Ada pepatah eropa yang mengatakan bahwa janganlah kamu menyalahkan cuaca, tetapi berbuatlah untuk beradaptasi dengannya. Ada juga pepatah yang mengatakan "Anda duduk-duduk, malaikat Izroil mengintai Anda."
Mari jadikan tantangan menjadi peluang!!

Disarikan dari Ta'lim Ahad Shubuh di Masjid Al-Hakim Bumi Serpong Damai tanggal 20 Januari 2008 bersama Ustadz Muchlish Abdi.

Minggu, Januari 13, 2008

Tak Teratur Ibadah Rawan Sakit Jantung


Ada temuan menarik dari Prof Dr Mochammad Fathoni dr SpJP (K) FIHA. Guru Besar Ilmu Penyakit Jantung dan Kardiovaskular Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo tersebut menilai ada korelasi yang signifikan antara ketaatan beribadah terhadap penyakit jantung koroner.
Menurutnya, orang yang rajin beribadah sangat penting untuk mengurangi stres sehingga berpengaruh bagi proses terjadinya penyakit mematikan tersebut. Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar atas dirinya di UNS,kemarin,Moch Fathoni menjelaskan, dia meneliti pengaruh ibadah dalam hubungannya dengan stres pada beberapa senyawa kimiawi yang memengaruhi patogenis atherosklerosis serta prognosis infark miokard akut (IMA). Penelitian tersebut merupakan observasional analitik dengan menggunakan rancangan studi kohort prospektif. ”Sebagai inclusion, saya telah mengamati penderita IMA, baik laki-laki maupun wanita berumur 35–70 tahun di RSUD Dr Moewardi Solo,” jelasnya, kemarin. Pengamatan dilakukan saat masuk RS sampai dua bulan setelah terkena penyakit jantung koroner terutama IMA. Diagnosis ditetapkan dengan anamnesis terdapatnya sakit/nyeri dada yang spesifik lebih dari 20 menit. Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) sesuai minesota code serta pemeriksaan enzim spesifik: MV-CPK, mioglobin, serta cTn-1. Sebagai evaluasi nilai ibadah, diberikan skor untuk masing-masing ibadah seperti salat wajib,puasa Ramadan, dan zakat.Jika dilakukan dengan baik mempunyai skor 1. Bila tidak dilakukan nilainya 5. Untuk ibadah haji, bagi orang mampu yang telah melakukan nilainya 1, sedangkan yang belum nilainya 5. Untuk orang yang tidak mampu tapi sudah melakukan nilainya 1 dan yang belum nilainya 2. Untuk ibadah sunah seperti salat rawatib, salat dhuha, salat tahajud, puasa tiga hari, puasa dawud,baca Alquran,dan iktikaf di bulan Ramadan yang melakukan diberi nilai 1 dan yang tidak nilainya 2. ”Dari hasil penelitian tersebut, terdapat korelasi signifikan antara nilai ibadah dengan senyawa kimiawi yang berperan pada patogenis penyakit jantung koroner nilai kadar Hs-CRP sedang,”jelasnya. Dia menjelaskan, berbicara mengenai penyakit jantung koroner, bagi yang beriman dapat mengetahui kedekatan dengan Allah SWT sehingga dapat menjadi benteng menghadapi stres.

Kamis, Januari 10, 2008

Hikmah Kematian


Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?

Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.

Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.

Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.

Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.

Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.

Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?

Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)

Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

Jumat, Desember 28, 2007

Ikhlash


Ikhlash, gampang diucapkan tetapi susah sekali diimplementasikan. Terkadang kita berfikir dan berprasangka perbuatan yang dilakukan telah didasari keihklasan, tapi fakta mengatakan lain. Derajat keihklasan mungkin hanya Allah swt dan diri kita sendirilah yang dapat menilainya. Orang lain bisa saja keliru dalam menilai keikhlasan seseorang.
Namun begitu, tanda-tanda dari perbuatan yang dilandasi keikhlasan akan terlihat dengan jelas. Biasanya, orang yang berbuat sesuatu dengan ikhlash, tidak mengharapkan terima kasih bahkan mungkin tidak ada orang lain yang tahu mengenai perbuatannya. Hanya dirinya dan Allahlah yang mengetahuinya.
Pernah suatu ketika saya dibantu seseorang untuk suatu urusan tertentu. Waktu itu saya belum sempat mengucapkan terima kasih karena ia keburu pergi. Nah ketika itulah tiba-tiba HP-ku berbunyi. .... ternyata darinya.
"Dimana kamu? Hargai dong saya, nampakin muka, apa...... bilang makasih, apa....... Kagak ada sopan santunnya sama sekali. Kalau tau begini kagak bakalan aku ............."
Perasaanku waktu itu bercampur aduk. Memang salah saya, sich. Tapi kan nggak terlalu salah amat, wong saya belum sempat berterima kasih dianya sudah pergi.
Akhirnya aku kirim sms, aku minta maaf dan kuucapin terimakasih. Aku juga tulis disitu alasan kenapa aku belum sempat berterima kasih.
..................... Tak ada jawaban.

hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Seolah tak pernah terjadi sesuatu pun.


Senin, November 19, 2007

Dunia Memang Aneh

Dari Tetangga Semoga Bermanfaat
"Assalamu'alaikum Warakhmatullahi Wabarakaatuh, Dunia memang aneh", Gumam Pak Ustadz

"Apanya yang aneh Pak?" Tanya Penulis yang fakir ini.

"Tidakkah kamu perhatikan disekelilingmu, bahwa dunia
menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa. Coba anda rasakan sendiri, nanti Maghrib, anda kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang anda miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu kamu berjalan kemari, nanti kamu ceritakan apa yang kamu alami" Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang
diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan peci, pakaian rapi dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan
seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya. "Aduh, tumben nih rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih?" tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami
saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya; "Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan memang semestinya seperti itu ditumbenin? Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang kemasjid dianggap aneh?
Orang yang pergi kemasjid akan terasa "aneh" ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron "Intan" atau siaran langsung AFCup.

Orang kemasjid akan terasa "aneh" ketika melalui
kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol dipinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang kemasjid terasa "aneh" ketika orang lebih sibuk
mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau
hanya tersenyum, "Kamu akan banyak menjumpai "keanehan-keanehan" lain disekitarmu" , kata Pak Ustadz.

"Keanehan-keanehan" disekitar kita?

Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan
shalat sunah dhuha, pasti akan nampak "aneh" ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan ngobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu,
akan terasa "aneh", karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al qur'an ba'da shalat,
akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?

Cobalah hari ini shalat jum'at lebih awal, akan terasa
aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi
nasehat, akan terasa aneh ditengah-tengah kiriman
e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung,
atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test..test, test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat
atau hadits, atau ayat al qur'an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi
sekali lagi jangan takut menjadi orang "aneh" selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari'at dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut "ditumbenin" ketika kita pergi kemasjid,
dengan pakaian rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur'an (Al A'raf:31).

Jangan takut dikatakan "sok alim" ketika kita lakukan
shalat dhuha dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.

Jangan takut dikatakan "Sok Rajin" ketika kita shalat
tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

"Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa*).

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman"
(An Nisaa:103)*

Jangan takut untuk shalat jum'at dishaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. ....

"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli [1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui". (Al Jumu'ah:9)

(1475- Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan dihari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muezzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya) .

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat Al Qur'an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan; *Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah*, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali seru, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk ladang amal kita....

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gambar-maaf- porno, gue/elu saja, atau test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat, aneh nggak sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu yang disuruh kok, "sampaikan dariku walau satu ayat"

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja.

Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan "keanehan-keanehan" yang dituntun manhaj dan syari'at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur'an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut "orang aneh" atau "manusia langka" jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelematkan kita (di yaumul akhir, yaumul hisab dan akhirat kelak)...

Selamat jadi orang aneh yang bersyari'at dan bermanhaj yang benar...

Wassalamu'alaikum Warakhmatullahi Wabarakaatukh

Rabu, November 07, 2007

PENTINGNYA PEDULI DENGAN KESULITAN ORANG LAIN

Cenah....

Sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka belanjaannya, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, "Hmmm..... makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar???"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus.Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak dengan panik, "ADA PERANGKAP TIKUS DI RUMAH........ DI RUMAH SEKARANG ADA PERANGKAP TIKUS........"

Ia mendatangi ayam dan berteriak, "Ayam, ada perangkat tikus di rumah!"

Sang Ayam berkata "Tuan Tikus..., aku turut bersedih, tapi hal itu tidak berpengaruh terhadap diriku."

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata " Aku turut bersimpati... tapi tidak ada yang bisa aku lakukan."

Tikus lalu menemui sapi. Ia mendapat jawaban sama, "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali."

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata "Ahhh..... perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku." Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya tersebut sendirian.

Suatu malam, istri pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata yang terperangkap adalah seekor ular berbisa. Buntut ular yang terjepit membuatnya semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun Si Suami akhirnya bisa membunuh ular berbisa tersebut, istrinya sempat terkena gigitan si ular berbisa.

Sang suami harus membawa istrinya ke dokter, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Akan tetapi, istrinya tidak sembuh-sembuh juga dan akhirnya meninggal dunia.

Pada saat pemakanan banyak sekali orang datang, sehingga Si Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan..... Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.